Dalam perjalanan hidup, sering kali kita menemukan seseorang yang hadir bukan hanya untuk memberi senyuman, tetapi juga memperlihatkan ketulusan cinta yang tulus dari hati. Entah mengapa, aku seolah tidak ingin merasakan hal ini kembali—rasa di mana aku merasa ada yang berbeda, meski aku belum tahu bagaimana akhirnya.
Aku selalu berpikir bahwa kebanyakan orang hanya ingin memenuhi keinginannya sendiri. Namun kali ini berbeda. Sorot matanya memancarkan ketulusan yang jarang kutemukan. Di depan banyak orang, dia terlihat begitu tegas, bahkan sangar. Tetapi ketika bersamaku, sikapnya berubah menjadi lembut, penuh kesabaran, dan tulus.
Dia tidak pernah membicarakan kelebihannya, justru lebih sering mencurahkan keluh kesahnya. Hati siapa yang tidak tersentuh saat seorang pria yang biasanya kuat justru menangis, mengungkapkan rasa lelah, dan mengaku merasa sendiri dalam perjuangannya?
Banyak orang hanya melihat dari luar: “dia sudah bahagia, dia sudah tercukupi.” Padahal kenyataannya, di balik semua itu, ada perjuangan keras yang jarang dipahami. Hidup memang tentang perjuangan. Ketika seseorang mampu bertahan hingga hasilnya terlihat, dialah pahlawan sejati dalam hidupnya.
Aku bangga padanya. Ya, bangga kepada seseorang yang sudah berjuang sejauh ini. Tidak semua orang bisa sekuat itu. Dia bisa terlihat keras di depan orang lain, tapi di mataku, dia tetaplah sosok yang penuh ketulusan, kelembutan, kesabaran, dan kekuatan.
Aku hanya ingin menjadi pendengar setia. Mendengar cerita-cerita randomnya, menemani dalam perjalanan hidupnya, dan berusaha membantu menemukan arah ketika dia merasa hilang. Aku percaya, Tuhan tidak pernah tidur. Mungkin ini adalah ujian untuknya, dan aku ingin berada di sisinya agar dia tidak merasa sendirian.
Namun, semua kembali kepada takdir. Aku hanya bisa berpasrah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Entah pada akhirnya aku akan kembali terluka atau justru menemukan titik terang dalam perjalanan cintaku, aku percaya bahwa Tuhan lebih tahu yang terbaik. Karena cinta sejati bukanlah tentang memaksakan kehendak, melainkan tentang kesabaran, ketulusan, dan keyakinan pada takdir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar